Tugu Prasasti Episentrum Gempa Bumi Bantul, Yogyakarta Tahun 2006. (Foto: Pradito R Pertana/detikcom).

Sejarah Hari Ini, 27 Mei; Gempa Guncang Yogyakarta, Ribuan Orang Meninggal

Publish by Redaksi on 27 May 2023

NEWS, IDenesia.id - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 27 Mei 2006 sekira pukul 05.55 WIB. Getaran gempa dilaporkan terasa selama 57 detik. Sementara United States Geological Survey melaporkan bahwa gempa tersebut berkekuatan 6,2.

Gempa tersebut mengakibatkan 6.234 orang tewas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Bantul, sebanyak 4.143 korban meninggal dunia di wilayah Bantul, dengan jumlah rumah rusak 71.763 rumah. Sementara itu, di wilayah lain, tepatnya di Klaten, korban meninggal tercatat mencapai 5.782 orang, 26.299 korban luka berat dan ringan, serta 390.077 lebih rumah roboh.

Tak hanya itu, sejumlah bangunan mulai dari pusat perbelanjaan, Gelanggang Olah Raga (GOR), hingga kampus rusak parah. Situs kuno dan lokasi wisata yang ada di Yogyakarta juga ikut mengalami kerusakan.

Gempa susulan sempat terjadi beberapa kali setelah gempa besar. Gempa ini tercatat sebagai yang terparah di Indonesia. Penyebab gempa sendiri dilaporkan karena letak Indonesia yang berada di antara tiga lempeng utama dunia yakni, lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Dikutip dari Kompas.com Kepala Pelaksana BPDB Bantul Dwi Daryanto mengatakan, bukan gempa yang membunuh manusia. Melainkan, robohnya bangunan. Umumnya, korban tewas lantaran tertimpa bangunan yang roboh. Sementara itu, korban luka-luka banyak terjadi karena kepanikan yang luar biasa. "Gempa tidak membunuh, tetapi bangunan yang menyebabkan korban luka dan meninggal dunia," kata Dwi.

Berdasarkan pantauan Stasiun Geofisika Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter ini terjadi pukul 05.53 WIB di lepas pantai Samudra Hindia. Posisi episentrum pada koordinat 8,26 Lintang Selatan (LS) dan 110,33 Bujur Timur (BT), atau pada jarak 38 km selatan Yogyakarta pada kedalaman 33 km.

Adapun penyebab gempa, tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, pada jarak sekitar 150 km-180 km ke selatan dari garis pantai Pulau Jawa. Pengamat Geofisika pada Stasiun Geofisika Yogyakarta Tony Agus Wijaya menuturkan, gempa utama terus diikuti gempa susulan berkekuatan kecil. Namun, kekuatan gempa yang menghantam Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah ini tidak menyebabkan gelombang tsunami.

Seakan tak selesai, setelah getaran berhenti, masyarakat harus menghadapi kondisi ekonomi yang lumpuh total. Kelumpuhan itu, antara lain terjadi karena listrik padam, penutupan Bandara Adisutjipto, macetnya sekitar 40 base transceiver stasiun (BTS) Telkomsel, kerusakan stasiun kereta api, dan ambruknya sejumlah pasar rakyat. Pasar-pasar yang menjadi urat nadi perekonomian rakyat Yogyakarta juga sebagian tidak beroperasi. Bahkan, Pasar Piyungan nyaris rata dengan tanah, serta sebagian bangunan Pasar Bantul juga roboh. Bukan hanya itu, pusat pertokoan di kawasan Malioboro, warung-warung makan, serta minimarket pun tutup.

#Topik Terkait

cropped-FAVICON-1.png
IDenesia Daily
hello world!
cross